Viewers

Jumat, 14 April 2017

Japanese Word Trivia (Genki and Ittekimasu/Itterasshai)

Nowadayas, I'm learning Japanese in purpose to prepare my prospective study and visit in Japan. Honestly, I've been learning that language for several random years since I was in junior high school. The difference is I did self-study back then meanwhile now I enroll in a formal class in local language course. Then, I found out a fews trivia (or maybe simply the lexically meaning) of some japanese word and I used to be wrong lol.

1. Genki ➡ fine
using in a sentence like,

Ikaga desu ka? ➡ how are you
Genki desu ➡ I'm fine

I used to say them carelessly even when I talked to the native lol. My Sensei (teacher) said that literally Genki means fine, but tend to refer to positive emotional state of someone, rather than physical health. It means, when we are sick (like getting cold, leg injury, etc), we can't say, "Genki ja nai" ➡ I'm not fine. Otherwise, we should to say "Kenkou warui desu" or "Byouki desu"➡ I'm sick (physically).

We even can say "Kanojo wa genki na hito!"➡She's a positive person!/She's a cheerful person! . Otherwise, when I said "Genki ja nai" ➡ I'm not well (emotionally). It means I'm emotionally not well (gloomy, sad, dissapoint, etc).

2. Ittekimasu➡I'm going (said by the person who leave a place) | Itterasshai➡ See ya (replied by the person who is left)

Literally, ittekimasu means I go and I'll be back soon. So, you can't say it when you leave home for study overseas because you won't come back in such long period. Then, itterasshai means go and please come back. Oh, I feel touched! The common word I said carelessly have the deeper meaning than I ever thought.


As I did self-study by gathering the materials from book and internet, I did not have chance to understand the lexical meaning of those words. I just processed a bunch of words and used them as I read their simple meanings written in book. Then, taking formal language class give me the new insight about foreign language learning process. Beside learning the language, I also be lectured about the native culture (like how is the proper gesture to say particular sentence, how is the proper intonation) even the history of some words (and lexical meaning). It all was fun and I feel they could catalyze better language ability for me!

--I can't write the word in proper Kanji yet since I had not learned them lol--

1000 Reasons You Shouldn't Take Postgraduate Degree [LPDP Part 1A]

Okay, maafkan judulnya yang sok dramatis #biar ngejual #sokbelajarSEO #maaftagaralay. First of all, post ini masih ada sangkut pautnya dengan proses aplikasi beasiswa LPDP kemarin dan entah kenapa tiba-tiba banyak teman yang konsultasi jodoh serta ikutan galau mempertanyakan tujuan hidupnya; kerja atau lanjut S2 nih?

Ini pertanyaan yang susah karena both of them bring the consequences, bitter sweetnya masing-masing. Sebagai teman yang baik, saya menyarankan apa adanya dan mencoba menjelaskan secara realistis positif negatif keduanya dari point of view-nya saya. Then, kalau kamu mau lanjut S2, pertimbangin hal-hal ini deh...


Let me tell you the bitter sweet part of postgraduate application for so-so-common fresh graduate macam daku...

1.      Kudu Giat berkhayal
Karena belum menjamah lapangan kerja secara nyata, yang bisa saya lakukan selama menulis esai dan menjawab pertanyaan wawancara selama proses mendaftar beasiswa adalah berkhayal. Mengira-ngira apa sih masalah dalam dunia kesehatan terutama di lahan fisioterapi saat ini? Bagaimana saya bisa membantu memperbaikinya? To keep it real, selalu konsultasikan hal-hal ini dengan orang-orang yang sudah terjun di dunia tersebut misalnya dosen atau praktisi. Jadi kalau kamu merasa mau mengejar karir dulu biar lancar nulis esai dan menemukan passion kamu dulu, that's okay. Noteworthy, kalau kamu masih fresh graduate yang masih minim pengalaman dan jati diri, kamu bisa mulai menggalinya sejak di bangku kuliah dan penelitian skripsi juga loh.

2.      Kerja atau ngejar mimpi?
Banyak sekali godaan untuk melipir ke dunia kerja. Mulai menghasilkan duit dan hidup mandiri tentu saja terdengar kerennn. Di saat teman-temanmu mulai menerima gaji dan kamu masih bolak-balik kampus buat minta surat rekomendasi, rasa sakitnya tuh…*garukdindingkos* Apalagi dalam mengejar beasiswa LPDP butuh waktu yang cukup lama untuk persiapan, tes, pengumuman, hingga persiapan keberangkatan. Nggak cukup sampai di situ, kita masih harus ngejar LoA, ikut tes universitas tujuan, nunggu intake. Saya pernah banget tiap kali ke kampus dan tempat laundry selalu ditanyain, 
“Mbak udah wisuda ‘kan? Kok belum kerja?”
“Iya Pak lagi daftar-daftar”
Puluhan hari kemudian..
“Kerja di mana Mbak?”
“Belum Pak. Ini mau daftar lanjut sekolah dulu” dan si Bapak cuma masang muka miris. Banyak orang yang khawatir dan takut saya happily living in jobless life gitu (nope Pak. Saya tersiksaaahhhh) sampai-sampai kadang ada yang dengan baik hati nasehatin, motivasi hingga ngasi tips cari kerja. Apalagi sewaktu nunggu pengumuman, kalau nggak diterima gimana lagi ya padahal tawaran kerja yang didapat sudah dilepas begitu saja. Galau lagi. Liat sosmed, teman-teman pada pakai seragam dinas. Gigit berkas ajahhh.
Waktu kamu dinyatakan lulus beasiswa dan harus nunggu intake, akhirnya kamu kembali menunggu dan menunggu. Beruntung kalau minimal kamu bisa kerja di dunia freelance yang penuh ketidakpastian. Apalagi lapangan kerja di dunia kesehatan itu sebagian besar memiliki kontrak 1 hingga 3 tahun sehingga kadang menuntut kamu kerja di luar jurusan kamu waktu kuliah.

3.      Social Pressure
Namanya juga makhluk sosial ya pastilah dalam mengambil keputusan mau nggak mau kita dihadapkan pada reaksi orang-orang sekitar. Contoh sederhananya, banyak teman yang heran kok mau sih capek-capek ngurus ini-itu? Yakin tuh kamu bisa lulus? Ngapain sih nggak kerja aja? Dan segudang bla-bla. Saya jadi ingat kata Kak Budi Waluyo, tantangan paling ringan saat mengurus beasiswa adalah omongan orang di sekitarmu. They just don’t know you and what you aim for! Titik. Dari awal tahun 2016 hingga akhir tahun 2016, saya rajin baca ebook, kepo blog awardee, gabung berbagai seminar online dan offline tentang beasiswa dan negara Jepang. Salah satu tujuannya adalah to keep my dream alive dan obat mujarab kalau sudah terlalu banyak negative responses yang singgah di telinga.

Kalau kamu masih galau dan merasa depresi setelah mendengar alasan-alasan ini, percaya deh akan datang 1000 bahkan lebih alasan lainnya yang bikin kamu nunda aplikasi S2-mu. Tentu saja melanjutkan S2 atau tidak itu adalah pilihan individu. Tetapi, waktu kamu memilih untuk melanjutkan S2 maka kamu harus siap-siap dengan berbagai badai di atas bahkan proses perkuliahan nantinya pasti akan jauh lebih berat. Kata orang-orang sih, intinya adalah meluruskan niat.

Oke, ini semua dukanya sih. Hahaha. Sukanya apa? Hmmm. Karena belum menjalani perkuliahan S2 dan masih terombang ambing menunggu intake, saya belum bisa jawab. Hehe. At least saya sangat bersyukur bisa sampai di tahap ini dengan segala remah-remah pencapaian yang saya punya. Alhamdulillah wishlist saya di usia 20 tahun berhasil dicoret dan I can say, “We make it!”.


(Akhirnya bisa nulis di) Pontianak, 14 April 2017
Dari yang sedang menanti email cinta dari Sensei

Selasa, 13 Desember 2016

LPDP & Diploma Fresh Graduate [LPDP Part 1]


LPDP & Diploma Fresh Graduate:  
 Khusus buat kamu anak FISIOTERAPI (kesehatan) se-Indonesia raya





Hello Scholarship Hunters!

Alhamdulillah, sekarang bertepatan dengan H+5 pengumuman kelulusan seleksi substansi Beasiswa Pendidikan Indonesia yang diselenggarakan oleh LPDP. Apa itu LPDP? Please check this official website of LPDP. Serba serbi LPDP sudah tercantum dengan amat jelas di website tersebut sehingga akan mubazir rasanya jika saya harus njelasin lagi :D Secara singkat, seleksi utama  beasiswa ini terdiri dari seleksi administrasi dan seleksi substansi. Jika lulus hingga tahap seleksi substansi, para calon awardee (peraih beasiswa LPDP) diwajibkan mengikuti Persiapan Keberangkatan (PK).
Selama berjuang meraih hati LPDP dan rajin banget ngestalking akun awardee-kepo blog awardee-japriin para awardee kece buat nanya, saya menemukan sebuah fenomena yang agak menyedihkan. By the way, this is fully my opinion ya. Entah kepo saya yang kurang dalem atau keyword saya yang kurang tepat, sebagian besar blog post yang saya baca didominasi oleh tulisan para lulusan universitas mentereng dengan latar belakang jurusan sosial atau teknik. Sedikit sekali saya menemukan blog post yang ditulis oleh anak kesehatan apalagi yang lulusan diploma (D4), apalagi yang berasal dari kampus belum terkenal seperti saya (belum ya, insha Allah beberapa tahun mendatang bisa terkenal dan setingkat dengan universitas negeri lain. Aamiin :D). Eventually, blog post yang ditulis oleh siapapun dan dengan latar belakang pendidikan apapun tidak akan terlalu berpengaruh pada kebermanfaatan konten tersebut karena alur dan persyaratan pendaftaran beasiswanya ya sama aja.
Akan tetapi, kegalauan muncul ketika beberapa persyaratan beasiswa LPDP menuntut konten yang spesifik seperti esai. Tentu saya sangat terbantu dengan contoh esai maupun panduan esai yang dibuat oleh para awardee dari jurusan sosial/teknik/bahasa (di luar saya nggak ngeh juga beberapa istilahnya) namun rasanya lebih afdol kalau kita ngeliat contoh esai atau bisa konsultasi dengan awardee yang satu jurusan atau paling gak sama-sama anak kesehatan. Apalagi kalau jurusannya agak langka macam saya waduh… Terdapat beberapa common questions yang hingga ke seleksi wawancara kemarin pun selalu muncul,

A: Fisioterapi? Sama kayak psikologi ya?
Saya: Bukan. Tentang terapi gitu.
A: Oh, mirip farmasi ya?
Saya: *istighfar*
Atau…

A: Wah, kamu dapat beasiswa ya? Lanjut S1 di mana?
Saya: Loh kok S1 sih? Saya kan udah wisuda kemaren. Insha Allah lanjut S2.
A: Loh, emang D4 gak perlu S1?
Saya: *bacain undang-undang dan peraturan kementrian*
Atau lagi…

A: Kamu alumni mana?
Saya: Poltekkes X
A: Swasta ya?
Saya: Negeri kok~

            For instance I want to say, lulusan D4 bisa banget daftar LPDP. Anak Fisioterapi juga bisa banget daftar dan lolos LPDP (insha Allah). Sebagai fresh graduate, ada beberapa hal yang harus dipastikan agar application beasiswa LPDP-mu gak kalah mentereng, yaitu:

11.   LURUSKAN NIAT DAN PANDANGAN HIDUPMU
Hal ini yang selalu saya pegang selama menjalani serangkaian tes beasiswa LPDP. It may sound old-school and cliché yet believe me, it’s the point. LPDP mengucurkan dana ratusan juta hingga milyaran rupiah dengan tujuan apa sih kalau bukan menyekolahkan satu pemuda/i yang bisa bermanfaat bagi komunitas bahkan kampungnya. Selalu fokuskan segala tulisan, jawaban dan mindset-mu pada kebermanfaatan untuk banyak orang

22.  Cantumin pengalaman magang
Kalau bisa, hindari mengosongkan kolom pengalaman kerja walaupun kamu memang belum kerja. Jangan takut buat masukin pengalaman magangmu di kolom pengalaman kerja dan akan lebih baik jika pengalaman itu linear dengan program studi tujuan

33.  Pamer penghargaan dan pengalaman organisasi
Ada beberapa pendapat sebenarnya tentang ini. Ada teman yang bilang, mending ngisi kolom di CV dengan secukupnya aja (laman CV sudah disediakan di web LPDP saat kita akan mengikuti seleksi tahap administrasi). Hal ini diharapkan akan memicu pertanyaan lebih lanjut oleh sang pewawancara nantinya ketika kita mengikuti tahap seleksi substansi. Pendapat lain mengatakan sebaiknya kita mengisi penuh kolom-kolom di CV tersebut secara maksimal. Saya sendiri menggunakan cara kedua. Saya mengisi kolom-kolom tersebut dengan pencapaian-pencapaian yang saya pernah dapatkan dari SD hingga sekarang karena saya pikir bagaimanapun juga tahap administrasi ini adalah gerbang yang akan membawa saya menuju tahap selanjutnya. Saya ingin memperlihatkan sisi terbaik dari diri saya dan membuat para reviewer tertarik. Saya ingin mereka tahu bahwa saya adalah orang yang aktif dan telah melakukan hal-hal yang saya anggap dapat bermanfaat bagi banyak orang. Akan tetapi, trik ini mempunyai sisi negatif yaitu…

44.  Pahami apa yang kamu tulis
Setelah menulis CV yang panjang lebar dengan beraneka ragam prestasi dan kegiatan maka pastikan bahwa paling tidak kamu mengingat poin penting dari tiap hal yang kamu tulis. Mungkin ini terdengar agak merepotkan tapi sebenarnya cukup sederhana kok. Misalnya, pernah memenangkan penghargaan melukis tingkat SD se-Kota raya, apa sih kegiatan itu? Kok kamu bisa menang? Apa value-nya terhadap hidupmu? Atau ketika gabung di organisasi X, apa sih peran kamu di organisasi tersebut? Organisasi tersebut ngapain aja? Kontribusi sosial apa yang sudah kamu lakukan melalui organisasi tersebut? Teman A saya bercerita bahwa ia mencantumkan organisasi kepramukaan di CV nya dan hal ini sempat diungkit oleh pewawancara pada seleksi subtansi. Sayangnya, teman A gelagapan karena organisasi tsb sudah 10 tahun yang lalu dan ia tidak ingat persis (karena grogi dan waktu terbatas untuk mengingat kenangan 10 tahun yang lalu itu) padahal setelah wawancara dan diingat-ingat dengan tenang, di organisasi tsb dia pernah membantu evakuasi korban longsor lho! ‘Kan sayang sekali jika kita tidak sempat memperlihatkan the best of me di hadapan pewawancara padahal kita hanya punya 2 kesempatan seumur hidup untuk meyakinkan pewawancara LPDP!

55. Fresh graduate yang terampil dan visioner
Pelamar dengan pengalaman kerja tentu saja terlihat lebih meyakinkan daripada seorang fresh graduate yang dapat diibaratkan sebagai anak ayam yang baru menetas dari cangkang telur dan belum paham betapa kejamnya dunia (tsahhh). Akan tetapi, seperti kata pepatah, usia bukanlah penentu kedewasaan (???). Show them that you know what you’ll face in this challenging world, the ‘price’ you would pay to win it, and how endlessly hard work to beat the obstacles. Tunjukkan bahwa kamu adalah fresh graduate yang punya banyak pengalaman dan mengetahui dunia yang nantinya akan menjadi lahan kerjamu di masa depan. Tunjukkan bahwa kamu bukanlah fresh graduate yang pemalas dan mengejar beasiswa hanya karena kamu belum siap menghadapi dunia kerja atau desperately nggak keterima kerja di mana-mana. NEVER! Ceritakan dengan rendah hati bahwa kamu memiliki banyak pilihan namun kamu memilih melanjutkan studi karena kamu membutuhkannya untuk membangun sesuatu yang bernilai ‘lebih’ dan bermanfaat bagi banyak orang tentunya.
Galilah peluang yang realistis, sesuatu yang sederhana tapi bermanfaat untuk minimal komunitas profesimu. Buatlah rencana pascastudi dengan jelas, spesifik, dan gunakan istilah yang membumi sehingga dapat dipahami orang umum (apalagi jika jurusanmu agak langka kayak saya :D)

66. Jual kelebihanmu
Saya percaya bahwa setiap orang punya kelebihan dan ‘nilai jual’ tersendiri. Nggak percaya? You can say, saya bukan jenius. Saya juga bukan berasal dari jurusan yang most wanted major in century bahkan saya juga bukan berasal dari well-known campus. Sadly, I admitted it. Kadang lucu aja pas perkenalan sesama calon awardee banyak yang gak paham jurusan dan eksistensi kampus saya *tears*. Lagi-lagi saya percaya, di mana pun kamu dan siapapun kamu, kamu selalu punya kesempatan untuk jadi yang terbaik. Jadi, jika kamu datang dengan latar belakang yang kurang populer, jadilah unik dan bermanfaat. Cari kelebihanmu dan atasi kekuranganmu. Misalnya, dengan ijazah diploma, saya sadar saya mempunyai keterbatasan untuk lanjut studi di beberapa universitas Eropa maupun Amerika. Finally, saya menemukan keringanan di negara Asia seperti Jepang dan Korea. Jika di universitas mentereng, mahasiswa biasanya lebih mudah untuk menemukan channel ke universitas luar negeri via rekomendasi dosen atau kerja sama antaruniversitas. It’s an impossible option for me so saya giat pdkt dengan mahasiswa serta dosen dari Jepang hingga akhirnya saya bisa menyusun Research Proposal di bawah bimbingan seorang profesor dan mendapatkan LoA conditional dari seorang profesor lainnya di Kobe University.
Kemudian, setarakanlah prestasimu dengan mahasiswa dari universitas mentereng via aktif di organisasi nasional maupun internasional, ikut lomba, atau aktif volunteering.

77. Baca, Pahami, Lakukan
Saya butuh waktu sekitar 1 tahun untuk menggali segala informasi mengenai beasiswa, universitas tujuan, dan LPDP. Selama 1 tahun itu pula saya rajin kepoin segala tulisan dan aktivitas awardee LPDP. Kata sesepuh, Fake it until you become it! Dari membaca banyak tulisan awardee, saya bisa paham apa sih yang dicari pihak LPDP, bagaimana sih medan perang di LPDP ini, dan informasi penting lainnya sehingga alam bawah sadar saya ter-setting automatically to become the one whom LPDP seek for *jodohku~maunya ku dirimu~~~*. Setelah banyak baca, sisakan waktu untuk memahami hal-hal yang mungkin butuh analisa seperti esai. Terakhir jangan lupa eksekusi!

Itu adalah hal-hal dasar yang selalu saya camkan dalam menjalani proses seleksi beasiswa LPDP. Banyak sekali celah di dunia kesehatan yang belum terjamah dan terkelola dengan baik sehingga ambil peranmu sebagai calon pencetus solusi dari problematika kesehatan Indonesia. Ingat, keep it simple, unique, and high-value.

Akhirnya, pada tanggal 9 Desember 2016, saya menerima email cinta dari LPDP

Seperti yang sudah saya sampaikan, saya belum ada apa-apanya dibanding awardee lain yang sudah jadi staf penting di luar negeri lah, kerja di NASA lah, jadi guru honorer yang mengabdi Papua lah, masya Allah. However, Insha Allah, I’ll prove that it’s the right choice of LPDP to choose me!

It’s too early to set the party but it’s impossible to not get burn by the euphoria      


Referensi penting:

Sabtu, 17 September 2016

Berburu di Hutan Buku Gramedi* Jogja



            Bangkit dari deadline yang menghantui, let me to tell about a trip I took recently. Setelah mencoret Lombok dan Bali dari bucket list, minggu ini berhasil menjamah Yogyakarta dengan pergi pulang (PP) naik motor berkat bujuk rayu info di facebook.
            Nekat naik motor berdua sama si Yana, kita menuju ke spot yang belum kita ketahui dengan pasti letaknya di mana. Hutan Buku yang kita maksud adalah Gudang Penerbit Gramedia yang katanya lagi buka bazaar. Dari blogwalking, sepertinya bazaar serupa juga pernah terlaksana di bulan September tahun lalu. Waktu kali pertama menuju tempat ini, aku sempat ngeblusuk sampe area sawah-sawah. Kenapa? Karena ternyata waktu itu (Selasa, 13 September 2016), si Gudang tertjintah TUTUP! Jadi, nggak kelihatan tanda-tanda keberadaan gudang yang letaknya lumayan menjorok ke belakang dan plang namanya subhanallah kecil banget :’) Yak, setelah menempuh perjalanan 2 jam Solo-Jogja, aku sama Yana harus menelan pil pahit *tsahhh. Di pagar depan, tergantung kertas selembaran seukuran A4 yang di sana tertulis bahwa gudang akan buka lagi pada tanggal 15 September 2016. Syalala~ Akhirnya, ke Jogja cuma buat ke Tog*Mas sama makan dessert~
Karena masih penasaran, kita jabanin di tanggal 15 September 2016 berangkat menuju si Hutan Buku dengan 2 orang personil tambahan (biar gantian ngeboncengin kitah-kitah.lol). Di hari-H, kita berangkat lebih siang dan baru nyampe di tempat pukul 10 pagi. Walau ingatan tentang tempat ini agak buram, kita nggak perlu nyasar lagi dong karena si Hutan hari ini diserbu orang-orang yang sampai memadati jalanan. Parkiran motornya heboh banget udah kayak antrean nonton konser. Sebenarnya rada sangsi bakal dapat giliran masuk apa nggak, ditambah lagi hujan turun dan sistem antrian yang agak cumbersome menurutku. Jadi ya, kita datang (di tengah lautan manusia) kemudian menuliskan nama kita di selembar kertas lalu kertas ini kudu diserahin ke petugas yang berada di front line biar kita bisa dapat nomor antrian. Padahal, buat nyerahin kertas nama ini aja kudu desak-desakan sama ratusan orang dan kira-kira butuh waktu 1,5 jam. Itu baru buat dapat nomor antrian pemirsahhhhhh. Musti antri lagi buat nunggu nama kita dipanggil dan Bapak Security yang manggil ini nggak pake MIC! No MIC di antara ratusan orang yang belakangan aku tahu nomor antriannya nyampe 1000~ *INI DUNIA MACAM APAHHH*
I can't capture any better pic but believe me, antrean manusianya 4x lipat dari yang terlihat di gambar -_-

Anehnya lagi, nama-nama yang dipanggil ini tidak menggunakan verifikasi apapun saat akan masuk sehingga anyone can claim other’s name. Misal, nama Juminem yang dipanggil, bisa aja ada orang random yang mengatakan ‘YA!’ dan dengan mudahnya dia bisa masuk. Walaupun, aku tahu ada ibu-ibu dengan seorang anak SD yang tabah menanti namanya yang tak kunjung dipanggil. You can still find this kind of people in this world *tears*. In sum, sistem antreannya sangat tidak efektif. Yah mau gimana lagilah ya, sepertinya ledakan pengunjung juga tidak disangka oleh pihak penyelenggara sehingga upaya penanganan yang dilakukan juga seadanya demi antisipasi jatuhnya korban pingsan di dalam gedung gudang yang pengap dan berdebu jika semua pengunjung yang ada dipasrahkan untuk langsung masuk begitu saja. Aku sebenarnya juga udah mabok berdiri di bawah terik matahari-hujan-terik lagi ini selama hampir 3,5 jam~
Cukup cerita berlelah-mabok-teler mengantre ini, rombonganku akhirnya bisa masuk berkat kehebatan si Lina. Cukup sampai di sini? ENGGAK! Petualangan yang sebenarnya baru dimulai. Gudang ini memiliki 2 lantai dengan puluhan rak dan ribuan buku yang tergeletak tak beraturan. Plus debu dan aroma-aroma lelah dari pengunjung lain (termasuk aku yak.lol). Susahhhh banget dapatin novel dari penulis Indonesia. Entah karena sudah habis diborong mengingat giliran aku masuk ini menuju waktu tutup atau karena faktor lain. Beberapa pengarang yang aku lihat adalah Meg Cabot, Neil Gaiman, Neil Graham, dan pengarang luar lainnya. Tumpukan komik di lantai 2 didominasi oleh Bleach, Doraemon, dan Conan. Selain itu, buku-bukunya belum terdeteksi oleh radar pengetahuan aku. Juga banyak majalah masakan, buku panduan traveling, buku panduan teknik sotosop, dan lain-lainnya yang kurang menggugah minat.
"Nikmat mana lagi yang kau dustakan?"

Setelah 1,5 jam lebih, akhirnya aku menyerah dan menuju kasir dengan deg-degan karena gatau harga buku-buku di sini. Di blog bilang novel harganya 10000an. Tapi di post facebook katanya 5000an semua. Akhirnya, pas giliran bayaran, pasang tampang innocent tanya sama si mbak kasir,
“Mbak, ini 5000an semua gak ya?”. Si Mbak senyum-senyum sambil mengangguk. Hati pun langsung plonggggggg. LOLOL. Duit makan tak perlu dikorbankan hoho. Akhirnya, perburuan hari itu pun berakhir dan lumayan senang karena dapat novel incaran yang versi bahasa inggris pula cuma dengan harga 5000!!! Setelah cukup lama hiatus dari borong-borong buku dan cuma bisa baca ebook yang bikin mata cepat lelah, sekarang bisa nikmatin aroma kertas itu lagi… :D Despite we must through a tiring day, still need to thank to Gramedia dan Bapak Security yang telah bekerja keras mengatur semua pengunjung. It’s such a great hunting time in dusty forest that full of world’s knowledge—books.

Hasil buruan dan rasa penasaran

THIS EVENT STILL AVAILABLE UNTIL 30 SEPTEMBER 2016!!!

-------Direction for dummies (like meh)---------------------:
So, buat yang dari arah Solo, gas aja langsung ke arah Bandara Adi Sutjipto. Setelah lampu merah bandara, masih lurus terus menuju lampu merah selanjutnya. Nanti pas sampai lampu merah yang merupakan pertigaan dengan papan penunjuk arah lurus menuju Jogja Kota dan belok kanan menuju Semarang, kita ambil ke kanan dan memasuki daerah Maguwoharjo, Sleman, Depok. Terus aja ke arah Stadion Maguwoharjo. Setelah melewati jalan yang melengkung ke arah kiri, lurus terus dikit tapi jangan lupa untuk putar balik menuju pom bensin yang sebelumnya dapat kita lihat nun jauh ada di sebrang jalan.  Kalau udah putar balik dan ketemu pom bensin, ambil arah kiri. Lurus terus sampai melewati perempatan Pasar (lupa nama pasranya), masih lurus terus. Gudang ini berada di kanan jalan, dengan bangunan putih agak menjorok ke belakang. Atau pake maps dengan klik location yang ada di sini